header 728 x 90 3

Sukses Lunasi Hutang dengan Kopi Luwak Liar

Sukses Lunasi Hutang dengan Kopi Luwak Liar – From zero to hero, mungkin itu merupakan kalimat yang cocok untuk menggambarkan perjalanan Jemi Rikaldo menjadi seorang entrepreneur. Sempat bangkrut di usaha MLM di bidang kesehatan, Jemi bangkit lewat bisnis kopi luwak yang banyak diminati baik dalam dan luar negeri. Dari hasil usahanya tersebut, Jemi mampu membeli kebun kopi seluas 1,5 hektar, rumah, kendaraan, hingga peralatan produksi hanya dalam waktu kurang dari 3 tahun. Seperti apa kisha sukses Jemi mengembangkan usahanya?

Kopi merupakan salah satu minuman yang banyak disukai hampir di berbagai usia, di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri kegiatan minum kopi atau yang lebih dikenal dengan istilah ngopi sudah menjadi gaya hidup (lifestyle) yang tidak hanya happening di kota besar, tapi juga di daerah. Tak heran dalam beberapa tahun terakhir pertumbuhan coffe shop semakin menjamur mulai dari kelas kaki lima hingga bintang lima. Semakin meningkatnya jumlah coffe shop tentu berbanding lurus dengan peningkatan permintaan akan biji kopi atau kopi bubuk guna memenuhi kebutuhan coffe shop tersebut. Tak heran bila prospek bisnis penjualan bubuk kopi akan semakin harum. Terlebih Indonesia dikenal memiliki jenis kopi yang banyak disukai pecinta kopi di seluruh dunia, salah satunya adalah kopi luwak.

Baca Juga : Sukses Mengembangkan Usaha Karpet Rasfur dengan Omset Hingga 500 Juta

Bahkan karena rasanya yang khas, tingginya permintaan, dan produksinya yang terbatas membuat harga kopi luwak jauh lebih mahal dibanding jenis kopi lainnya. Karena menjajikan keuntungan yang besar, tak heran bila banyak pelaku usaha tertarik menggeluti usaha kopi liwak, salah satunya adalah Jemi Rikaldo. Pria yang akrab disapa Jemi ini menekuni usaha kopi luwak sejak 2009 dengan brand Jim’s Coffe yang sukses menembus pasar luar negeri dengan omset hingga ratusan juta per bulan.


Siapa sangka kesuksesan yang diperoleh Jemi merupakan sebuah kesengajaan. Dikatakan Jemi, sebelum menekuni usaha Jim’s Coffe, Jemi tengah dalam kondisi bangkrut dan meninggalkan hutang ratusan juta lantaran bisnis MLM di bidang kesehatan. Di tengah kondisi tersebut ada salah seorang temannya yang mengajaknya untuk bisnis ekspor kopi luwak ke Korea. “Saat itu saya tertarik karena dijanjikan harga Rp 10 juta/ kg, kebetulan juga di daerah saya banyak petani kopi,” ujarnya.

Walau tanpa memiliki modal, tak membuat Jemi kehilangan akal. Jemi lantas mendatangi petani-petani kopi luwak dan meminta pembayaran mudur setelah produk laku terjual. Sayang setelah terkumpul sekitar 100 kg, rekannya tersebut gagal mengekspor kopi luwak Jemi.

Kondisi tersebut tidak membuat Jemi putus asa. Suami dari Rika Ratnasari ini memutuskan untuk menjual sendiri kopi luwak yang telah dikumpulkan petani. Langkah yang Jemi menjual kopi luwaknya dengan menawarkan ke toko-toko hingga keluar masuk kantor dan instansi di Bandar Lampung. Hasilnya kopi luwak yang dijual mendapat respons yang positif dari masyarakat dan pesanan mulai datang secara perlahan. Dari hasil keuntungan tersebut Jemi putar kembali untuk menambah stok kopi luwaknya. “Hampir setahun saya pasarkan kopi luwak dengan cara keluar masuk kantor, “ terangnya.

Jika biasanya pelaku usaha kopi luwak lainnya menangkarkan luwak untuk memproduksi kopi luwak, berbeda dengan Jemi. Jim’s Coffe menggunakan bahan baku kopi luwak liar yang memiliki cita rasa dan aroma yang lebih khas dibandingkan dengan luwak yang ditangkar. “Dulu saya juga menangkar luwak, namun pelanggan lebih menyukai kopi luwak liar karena cita rasanya jauh berbeda. Akhirnya saya memutuskan untuk memproduksi kopi dari luwak liar saja, “ terangnya.

Pria yang hobi travelling ini mengaku tidak memiliki kesulitan mengumpulkan kopi luwak liar pasalnya di daerahnya, luwak banyak hidup di alam bebas. Tak heran bila Jemi mengaku mampu memproduksi hingga 500 kg kopi luwak tiap bulannya. “Sebenarnya tidak sulit mencari kopi luwak instan, karena kotoran luwak biasanya ada di sekitar pohon kopi,” ujarnya.

Sukses Lunasi Hutang dengan Kopi Luwak Liar

Sukses Lunasi Hutang dengan Kopi Luwak Liar

Jim’s Coffe menawarkan semua jenis kopi yang ada di Indonesia mulai dari Robusta, Arabica, Liberica, dan Robinson dengan harga yang bersaing. Untuk kopi luwak liar Robusta dan kopi luwak liar Arabica ditawarkan dengan harga mulai dari Rp 100-15o ribu/ 100 gram, sedangkan untuk kopi liberica dan kopi robinson tradisional seharga 15 ribu/ 100 gram. Namun jika pelanggan ingin mendapat harga lebih muah, Jemi menyediakan biji kopi yang dapat digiling sendiri oleh pelanggan. “Saya juga menjual biji kopi dengan harga yang lebih murah dari harga yang sudah dikemas,” ujarnya.

Selain itu Jim’s Cofee juga menawarkan kopi lanang yaitu kopi untuk pasutri penambah stamina pria seharga Rp 20 ribu/ 100 gram dan kopi durian seharga 25 ribu / box isi 5 sachet. “Kopi durian merupakan perpaduan antara cita rasa kopi dengan aroma khas durian. Bisa dibilang kopi durian merupakan salah satu minuman khas di Lampung karena banyaknya masyarakat yang menikmati kopi sambil ditemani buah durian,” ujar ayah dari Nazam Habibi Amin ini menjelaskan.

Kini Jim’s Cofee telah mensuply kopi luwak ke cafe-cafe, dan jaringan supermarket. Agar pemasarannya semakin luas, Jemi membuka kerja sama keagenan bagi siapa saja yang tertarik memasarkan Jim’s Coffee.

Menurut Jemi syarat untuk menjadi agen Jim’s Coffee cukup membeli kopi senilai Rp 5 juta dengan diskon hingga 40 % dari harga jual. Kini Jim’s Coffee telah memiliki lebih dari 20 Agen yang tersebar di Lampung, Palembang, Jakarta, Bali, Lombok, Sulawesi, hingga Malaysia dan Singapura.

Dengan produk yang berkualitas serta ditunjang jaringan pemasaran yang luas tidak heran bila Jemi mengaku mampu menjual sekitar 100 kg kopi luwak per bulan dan meraup omset ratusan juta per bulan. Sayang Jemi enggan menyebut berapa keuntungan bersih yang diperoleh tiap bulannya. “Soal keuntungan bersih itu rahasia negara dong,” selorohnya.

Dari hasil usaha Jim’s Coffee Jemi berhasil melunasi hutangnya dari bisnis terdahulu yang berjumlah Rp 125 juta. Tidak hanya itu, hanya dalam 3 tahun Jemi juga berhasil membeli kebun kopi seluas 1,5 hektar lengkap dengan mesin produksi kopi untuk meningkatkan kapasitas produksi Jim’s Coffee. Jemi juga telah membeli sebuah rumah dan kendaraan untuk keluarganya. “Semua biaya pernikahan saya juga dari hasil usaha Jim’s Coffee,” ujarnya.

Ke depan Jemi ingin membuat Jim’s Coffee menjadi salah satu perusahaan kopi yang diperhitungkan. Untuk itu Jemi gencar melakukan branding dan promosi dengan cara memasang iklan di media baik cetak maupun elektronik, hingga mengikuti pameran baik di dalam maupun luar negeri. “Hingga sat ini pameran merupakan promosi yang paling efektif untuk memasarkan Jim’s Coffee baik di dalam maupun luar negeri,” pungkasnya.

Baca Juga : Kisah Sukses Adidel Cakes Inovasi Cake In Jar

Belajar sb1m yuk