header 728 x 90 3

Sukses Dari Usaha Mendoan

Sukses Dari Usaha Mendoan – Melihat prospek usaha gorengan khususnya mendoan yang sangat menjanjikan mendorong Mustakim terjun ke usaha tersebut sejak 2011 lalu. Apalagi dengan hobinya memasak, membuat pria asli Banyumas ini bisa berkreasi dalam membuat produk mendoan bercita rasa khas. Hasilnya di 6 bulan awal usahanya berjalan, ia bisa memiliki 10 gerobak mendoan yang disewakan ke beberapa pedagang mendoan di kawasan Jakarta Timur. Seperti apa pria yang pernah gagal usaha molen mini dan keripik singkong ini dalam membangun usaha?

Siapa tidak kenal mendoan? Gorengan berbahan baku tempe asli banyumas ini memang sudah melegenda. Nama mendoan bukan hanya terkenal di daerah asalnya, di Ibu Kota, mendoan juga sudah menjadi salah satu pilihan utam masyarakat yang ingin menikmati gorengan dengan sensasi yang berbeda

Baca Juga : Kisah Sukses Resto Bebek Royal

Salah satunya adalah Mustakim yang sukses membangun usaha mendoan hingga memiliki banyak cabang di seluruh Indonesia. Di bawah bendera Bianqu Group, yang juga mengeluarkan produk onde-onde lumer ini, mendoan bisa berkembang pesat dengan waktu yang tidak terlalu lama.


Pilihan Mustakim terjun ke usaha mendoan muncul sejak melihat seorang temannya yang sukses menjalankan usaha mendoan dengan modal meminjam dari dirinya. “Awalnya ada teman yang pinjam uang untuk buat gerobak mendoan, dan setelah jalan itu laris banget. Tapi karena dia tidak serius akhirnya gerobak nganggur beberapa bulan,” ceritanya.

Dari situ, Mustakim memutuskan untuk memanfaatkan gerobak yang ada dengan membuka usaha di daerah Klender, Jakarta Timur. Tanpa disangka, respon masyarakat terhadap mendoan buatannya sangat bagus, bahkan di awal usaha mendoan Bianqu habis dalam waktu satu jam.

Grafik penjualan yang terus meningkat membuat Mustakim berani mengembangkan usaha. Tidak tanggung-tanggung, ia langsung membuat 10 gerobak mendoan dengan modal meminjam dari salah satu bank. Satu bulan berikutnya, mustakim kembali membuat gerobak mendoan baru hingga akhirnya mencapai 17 gerobak mendoan yang semuanya disewakan pada kenalan maupun kerabat yang ingin menjalankan usaha mendoan.

Ternyata dampak positif dari usaha mendoan membuat Mustakim bersemangat untuk berwirausaha. Bukan hanya mendoan, ia juga membuka usaha Molen Mini dan Keripik Singkong sebagai usaha berikutnya. “Saya pernah buka Molen Mini karena waktu itu sedang booming,” ungkap Mustakim.

Sukses Dari Usaha Mendoan

Sukses Dari Usaha Mendoan

Namun di tengah semangat usahanya yang tinggi, Mustakim mendapatkan musibah yang membuatnya harus menarik nafas panjang. Dampak kenaikan harga mulai dari harga minyak hingga tepung membuat modal usahanya tidak tertutupi dan ia harus merelakan menutup belasan gerobak mendoan miliknya dalam waktu 3-4 bulan. “Gerobak saya tutup jadi tinggal 2 gerobak saja yang masih beroperasi,” ungkapnya

Bukan hanya di usaha mendoan, ujian juga menerpa menerpa Mustakim di usaha molen mini dan keripik singkong miliknya. Ia harus menutup 12 gerobak Molen Mini dan rugi sekitar 1 kuintal keripik singkong yang sudah dibuatnya.

Semua kegagalan tersebut dijadikan sebagai pelajaran berharga. Bahkan dengan keyakinan bahwa usaha mendoan bisa berkembang pesat, Mustakim yang masih harus memikirkan menbayar utang pinjaman ke Bank memutuskan untuk keluar dari pekerjaan sebagai Supervisor di salah satu perusahaan kebutuhan bayi ternama.

Dengan mengandalkan kejujuran dan berbagai kelebihan yang dimiliki membuat mendoan Bianqu bangkit. Salah satu yang diandalkan mempertahankan kualitas produk. Dengan menjaga kebersihan gerobak, proses pengolahan, dan sebagainya membuat banyak konsumen loyal.

“Kita mencoba membuat tempe yang bersih dengan beberapa kali proses, kaldu yang saya buat sendiri, serta minyak untuk menggoreng juga diganti setiap hari. Untuk bumbu tepung saya buat khusus hingga butuh 4 tahun untuk menemukan cita rasa yang pas,” jelasnya.

Saat ini, selain memiliki 8 gerobak milik sendiri, dengan sistem kerja sama sewa gerobak dan kemitraan, kini Mendoan Bianqu sudah memiliki lebih dari 80 mitra yang tersebar di seluruh Indonesia, dengan omset mencapai puluhan juta rupiah tiap bulannya. Selain itu, Mustakim kini sudah dibantu oleh 12 karyawan. “Sekarang saya juga mulai melirik usaha lain seperti onde-onde meler dengan omset sekitar 300 ribu per harinya,” tambah Mustakim.

Banyaknya permintaan pasar membuat Mustakim memutuskan untuk membuka peluang kerja sama. Dengan investasi sebesar Rp 8,8 juta, masyarakat sudah bisa membuka usaha mendoan. Dengan modal tersebut Mitra sudah mendapat berbagai keperluan usaha mulai dari booth, peralatan usaha, banner, seragam, hingga bahan baku awal senilai Rp 300 ribu.

Yang menarik dalam usaha ini, Mustakim tidak menarik fee apapun dari Mitra, mereka hanya diwajibkan membeli bumbu tepung yang merupakan kunci dari cita rasa Bianqu Mendoan. Bahkan untuk bahan baku tempe, Mustakim mengajarkan Mitra untuk membuat tempe sendiri. Pelatihan membuat tempe mendoan diberikan bagi Mitra di luar Jakarta Timur agar mereka bisa memenuhi kebutuhan tempe sendiri.

Mustakim menggambarkan Mitra bisa balik modal dalam waktu sekitar 3 bulan. Dengan asumsi penjualan minimal 100 pcs mendoan per hari, maka omset yang bisa diperoleh sekitar Rp 300 ribu per hari atau sekitar Rp 9 juta per bulan.

Dengan HPP untuk satu harinya sekitar Rp 200 ribu atau sekitar Rp 6 juta per bulan maka keuntungan bersih yang bisa didapat mitra mencapai Rp 3 juta perbulannya. “Bahkan Mitra di Pulo Gadung yang per hari bisa menjual 250 pcs, dengan keuntungan bersih sekitar Rp 400 ribu per hari,” terangnya.

Baca Juga : Sukses Dengan Waralaba Mie Ayam

Belajar sb1m yuk