header 728 x 90 3

Menjadi Pemasok Baju Koko Department Store Papan Atas!

Menjadi Pemasok Baju Koko Department Store Papan Atas!-Busana Muslim yang semakin diminati masyarakat yang membuat usaha ini terus berkembang. Termasuk baju koko kreasi Finaldo dengan merk Al-Husna yang memasok peritel besar mulai dari Ramayana, Carrefour, Hypermart hingga Matahari. Lalu apa rahasia suksesnya?

 

Di tahun 1990 Finaldo merintis usahanya membuat busana muslim khususnya baju koko. Saat itu memang minat masyarakat untuk mengenakan busana muslim masih rendah, namun Finaldo memiliki keyakinan ke depannya akan semakin banyak masyarakat yang mengenakan busana muslim termasuk kaum laki-laki. Ia pun mengajak banyak umat muslim untuk berbusana muslim. Sambil bekerja sebagai karyawan perusahaan Panasonic, Finaldo pun mulai merintis usaha produksi baju koko di tahun 1990 dengan modal kurang dari Rp 2 juta untuk membeli bahan kain dan ongkos jahit, dengan memanfaatkan ruang garasi rumahnya. Pasar pun terus bertumbuh dari tahun ke tahun, hingga Finaldo yang telah bekerja selama 12 tahun di Panasonic memutuskan resign untuk fokus membesarkan usahanya.

Finaldo menilai usaha pakaian muslim cerah karena animo masyarakat untuk mengenakan pakaian muslim semakin besar dan menurutnya hingga saat ini saja ia baru melayani 1/6 dari kebutuhan pasar baju koko. Ia pun mengajak masyarakat yang memiliki niat wirausaha untuk menggarap pasar produk fashion khususnya baju koko. Saya ingin lebih banyak lagi teman-teman yang terjun langsung membuka usaha pakaian muslim dan pintu saya terbuka untuk membantu masyarakat yang ingin membuka usaha baru atau para pensiunan. Apalagi minat pasar luar negeri juga cukup besar terlihat dari beberapa pameran yang pernah saya ikuti, tambah Finaldo yang pernah menjadi juri penganugerahan UKM terbaik.

Momentum Lebaran merupakan saat dimana masyarakat menganggarkan budget untuk membeli busana muslim termasuk baju koko. Menurut Finaldo pihak department store mendisplay produk baju koko miliknya dengan merek Al-Husna di momen tersebut. Untuk itu baju koko Al-Husna diproduksi dalam periode 10 bulan lalu pada bulan ke 11 akan dikirim ke departement store dan di bulan ke 12 siap di jual untuk kebutuhan lebaran. Periode waktu yang cukup lama untuk proses produksi karena kita harus membuat baju koko untuk banyak outlet, terang Finaldo.


Periode waktu yang mencapai 10 bulan itu membuat Finaldo pernah menghadapi kendala permodalan di awal usaha. Pada saat mengajukan modal dari bank usahanya dianggap tidak bankable dan tidak lolos karena neraca keuangan usahanya tidak perbulan, mengingat pembayaran dari pihak department store setiap 10 bulan sekali. Hingga ia terpaksa menggunakan modal pinjaman dari saudara. Namun, setelah melihat usahanya berjalan baik, 3 tahun kemudian pihak bank baru mau membiayai usahanya. Lebih jauh menurut Finaldo jika ingin memajukan UKM perbankan harus bisa ukm able. Kini setelah usahanya berkembang pihak bank masih terus menawarkan pinjaman meskipun ia merasa tidak terlalu membutuhkan lagi pinjaman. Namun pinjaman bank justru sangat dibutuhkannya di awal usaha.

Saat itu bank syariah terkemuka mengatakan UKM tidak bankable karena tidak bisa membuat neraca keuangan  tiap bulan tapi saya mengatakan bank yang tidak ukm able, dan banyak usaha sejenis seperti penggemukan sapi yang dipasarkan setahun sekali sehingga tidak bisa membuat neraca keuangan bulanan. Hingga akhirnya pihak bank mau membiayai dengan kesepakatan atau perjanjian pembayaran pinjaman kita sanggupi tiap bulan. Inilah yang harus dibenahi, di Jepang saja bunga bank hanya 1% sehingga masyarakat terdorong untuk melakukan investasi usaha yang bisa membuka lapangan kerja banyak orang, papar Finaldo.

Varian.Finaldo membuat baju koko untuk memasok department store sesuai pesanan masing-masing dari mulai bahan, desain hingga ukuran dan kisaran harga yang dijual pihak department store Rp 100 ribu per potong baju. Ia juga membuat produk pelengkap seperti jilbab anak dan dewasa maupun celana cargo (celana dengan banyak kantong). Saat ini jelang pilkada Finaldo juga membuat baju koko untuk event pilkada yang diberi lambang partai atau calon peserta pilkada dengan pembayaran cash and carry.

Menurut Finaldo desain baju koko Al-Husna memiliki ciri khas terutama pada bordir berdesain arabic dan maroko. Finaldo yang juga lulusan desain interior ITB Bandung membuat desain bordir baju koko sendiri dan setiap musim jelang Lebaran berubah desainnya dan satu jenis corak bordir digunakan untuk 600 potong baju. Untuk bahan dari jenis katun dan di tahun 2017 ini mengahadapi momen Lebaran Finaldo membuat baju koko bahan katun yang didominasi warna-warna pastel dan juga membuat model pasangan untuk anak dan ayah. Resiko penjualan di pasar ritel modern jika produk tidak habis terjual akan diretur oleh pihak department store. Untuk itu Finaldo juga trus melihat tren desain yang diminati pasar.

Makloon. Sistem produksi yang diterapkan Finaldo dari mulai merintis usahanya hingga saat ini adalah bekerjasama dengan mitra produksi atau sistem makloon yang tersebar di banyak kota mulai dari Sukabumi, Ciamis, Tasikmalaya, dan Pekalongan. Harga atau tarif makloon dari mulai Rp 4 ribu sampai 5 ribu per potong baju tergantung modelnya, dan juga tarif berbeda di tiap kota tempat tinggal penjahit makloon. Pembayaran ke pihak makloon dilakukan setelah pekerjaan selesai dan tidak menerapkan pembayaran cicilan.

Rata-rata satu orang penjahit dalam satu hari bisa membuat 10-25 potong pakaian. Finaldo menerapakan standar operasional produksi misalnya standar kecacatan produksi hanya boleh 0,5% artinya dalam 200 potong baju yang dijahit yang cacat hanya boleh satu dan itu masuk dalam sistem quality control. Jika produk tidak memenuhi sistem quality control  akan dikembalikan oleh Finaldo ke pihak mitra produksi sehingga pembayaran ke pihak mitra produksi juga akan tertunda karena produk harus diperbaiki dulu. Maka dari mereka harus memenuhi standar kualitas kita. Begitu juga jika pengiriman terlambat satu hari akan kita denda, karena hal itu juga berpengaruh pada pengiriman kita ke pihak department store dan kita juga kena denda juga jika terlambat mengirim, tambah Finaldo.

Pihak makloon pun dibina dengan skill, peralatan hingga bantuan tempat usaha. Pihak mitra usaha atau makloon menyiapkan tenaga dan kita terkadang membantu dari mesin atau perbaikan tempat usaha. Pihak makloon akan mengambil bahan kain yang sudah dipotong dan dibordir lalu kita siapkan juga aksesoris termasuk hangtag (label baju kertas) serta kemasan dan akan dijahit pihak makloon. Setelah selesai lalu dikirim ke kita dan siap jual, jelasnya.

Finaldo sendiri dibantu 7 orang karyawan hanya mengerjakan sekitar 10-20 persen dari total proses produksi dan selebihnya dikerjakan oleh pihak makloon. Saat ini 7 orang karyawannya bekerja di tiga rumah produksi Finaldo di Taman Duta Cimanggis Depok. Mereka bertugas memotong kain dan menyeleksi bahan maupun memeriksa satu per satu pakaian yang sudah dijahit pihak makloon. Baju koko yang sudah siap dijual sebelumnya digudangkan dan pada waktunya dikirim ke department store sesuai jadwal. Tren penjualan di pasar ritel modern paling besar di bulan puasa dan pengiriman kita akan mulai pertengahan Februari 2017, saat ini kita masih terus melakukan proses produksi sesuai jumlah pesanan, ujar Finaldo.

Baju koko Al-Husna akan dikirim ke kantor pusat Ramayana selanjutnya didistribusikan ke tiap outlet Ramayana, begitu juga untuk department store lain. Saat ini Finaldo bisa memproduksi baju koko dalam periode 10 bulan hingga 5 ribu atau 6 ribu lusin. Menurut Finaldo ada 13 tahap quality control  sampai pada tahap packing sebelum baju koko siap dikirim ke departmen store. Para pedagang kain Pusat Grosir Tanah Abang Jakarta mengirim kain langsung ke rumah produksi Finaldo dan melalui tahap pemeriksaan untuk menghindari jika ada ukuran kain yang tidak sesuai kontrak pesanan. Bagian produksi bertugas di bagian potong kain dan memeriksa kain yang telah dipotong. Lalu kain diserahkan ke pihak bordir yang sudah bekerjasama dengan Finaldo di kawasan Jembatan V Jakarta sebelum kain dijahit. Lalu setelah dijahit oleh pihak makloon dan dikemas akan kembali diperiksa lagi.

Sistem tersebut dibuat standar dan jika ada karyawan yang melakukan kecurangan akan cepat diketahui. Finaldo juga berupaya mendidik karyawan karena menurutnya produk bermutu hanya bisa dibuat oleh karyawan yang bermutu. Saya biasa melatih orang jadi pengusaha, bagaimana membuat pengusaha muslim yang seharusnya. Dengan cara ini kita yakin bahwa pekerjaan karyawan juga bermutu. Jangan berharap barang yang dihasilkan bermutu jika karyawan tidak bermutu, tandasnya.

Dalam satu kali proses produksi untuk periode 10 bulan, biaya opersional untuk bordir kain sekitar Rp 600 juta, biaya makloon untuk 5 ribu lusin baju koko sekitar Rp 300 juta, ditambah pembelian aksesoris, hang tag hingga belanja kain. Untuk 12 ribu baju atau 1000 lusin baju membutuhkan 18 ribu yard kain katun, dan untuk 5 ribu lusin baju membutuhkan 90 ribu yard kain katun. Jika harga kain Rp 18 ribu per yard amak biaya belanja kain sekitar  Rp 1,62 M. Dengan penjualan hingga 5 ribu lusin baju koko atau 60 ribu potong baju koko per satu periode 10 bulan, maka rata-rata omset penjualan baju koko kreasi Finaldo per bulan mencapai ratusan juta rupiah dengan keuntungan  bersih 15-20%.

Pemasaran. Dari awal usaha hingga saat ini Finaldo eksis memasarkan produknya ke pasar ritel modern atau department store mulai dari Ramayana berkembang ke Matahari, Carrefour, dan Hypermart. Semula ia mencoba produk ke toko konvensional namun kerap mengalami masalah mulai dari pembayaran pihak toko yang sering terlambat hingga saat kontrak habis pembayaran tidak jelas.

Saat  ini pasar makin terbuka dengan berkembangnya tren online dan baju koko kreasi Finaldo pun juga dipasarkan ke toko online seperti mataharimall.com , zalora, blibli.com . Tetapi ia tidak memasarkan  ke pusat grosir Tanah Abang. Namun baju koko yang dijual di toko online berbeda dari bahan maupun desain. Sehingga harga jual lebih mahal  mulai dari Rp 157 ribu sampai Rp 294 ribu. Menurut Finaldo penjualan di toko online bisa menghasilkan keuntungan bersih sampai 50%. Kita punya edisi khusus dengan desain berbeda untuk toko online, karena ongkir ditanggung oleh pembeli. Sehingga kita buat edisi lebih luks dari bahan, desain dll. Dulu kita punya distributor dari kalangan ibu rumah tangga, tapi belakangan sejak ada online banyak konsumen langsung membeli dari kita. Minat masyarakat untuk membeli baju koko di toko online dari bulan ke bulan juga selalu bertumbuh. Banyak orang melihat bahannya beda dengan department store dan akhirnya pesan, pungkasnya.

 

 

 

 

 

 

 

Belajar sb1m yuk