header 728 x 90 3

Masih Betah Berbisnis di Negeri Sendiri

Pasar tunggal ASEAN baru dua pecan berlaku. Namun ada beberapa pihak yang sudah cemas dengan kemampuan Indonesia bersaing dengan negara Asia Tenggara lainnya. Salah satu sektor industry yang dianggap tidak kuat bertahan dalam era pasar bebas kawasan ini adalah usaha mikro, kecil, dan menengah (UKM).

Tidak sedikit yang menilai sektor usaha informal negara kita ini belum mampu bersaing. Alasan mereka, pengetahuan pengusaha mikro, kecil, menengah tentang teknologi masih rendah. Selain itu, produk-produk UMKM kita dianggap belum cukup berkualitas lagi kompetitif.

Tapi, di mata pemerintah, sektor UMKM sudah siap menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Salah satu tolak ukurnya, hasil penelitian orientasi ke pasar dalam negeri, bukan pasar ekspor.

Meski begitu, ekspor sektor UMKM kita terus meningkat. Saat ini ada sekitar 5000-an UMKM yang berorientasi ekspor, dengan nilai mencapai Rp 20,27 triliun tahun 2013 lalu. Setiap tahun pemerintah menargetkan pertumbuhan ekspor sektor ini sebesar 5% hingga 7%. “UMKM yang ekspor tentunya sudah punya daya saing, dan biasanya mereka pengusaha menengah,” ujar Wayan.


Pasar Domestik

Dalam tahan awal MEA, pemerintah memang mengarahkan pelaku UMKM untuk menguasai pasar dalam negeri. Pasalnya, pasar sektor ini memang ada di Indonesia. Dan sebanyak 60% pasar ASEAN berada di Indonesia. Jadi, jangan sampai pasai ini dinikmati pelaku dari negara lain.

Alasan lainnya, sektor UMKM menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Data Kementrian Koperasi dan UKM menunjukan, tahun 2013 ada 1,36 juta unit usaha mikro, kecil dan menengah baru di Indonesia yang menyerap tenaga kerja sebesar 6,87 juta orang. Sayang, Kementrian Koperasi dan UKM belum mengeluarkan data baru, sekalipun pengembangan sepanjang tahun 2014.

Pemerintah juga mendorong sektor UMKM untuk mengembangkan diri, agar tidak tergantung pada impor. Maklum, sebagian bahan baku produk UMKM masih dari luar negeri. Meski demikian, mereka berpotensi mengembangkan produk-produk subsitusi impor. “potensi bisnis UKM memang ada di Indonesia,” kata Wayan.

Pernyataan Wayan ini klop dengan Sandiaga S Uno. Wakil Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Bidang UKM, Koperasi dan Industri Kreatif ini bilang, sektor UMKM harus memprioritaskan terlebih dahulu pasar dalam negeri. Sebab, keunggulan Indonesia terletak pada sumber daya alam, tenaga kerja, dan kelas menengah yang besar serta Industri kreatif yang tumbuh pesat. Ini harus dimanfaatkan dengan maksimal, afar peluang pasar yang besar itu tidak dinikmati pemain asing.

Sementara, MEA yang berorientasi ke pedagang internasional bisa menjadi pecut sektor UMKM untuk terus mengkatkan standard an kompetensi pelaku usahanya. Sehingga, Indonesia bisa menjadi basis produk-produk yang menguasai pasar ASEAN. “Saat ini yang menjadi masalah utama dalam pemberlakuan MEA adalah, ketidaksiapan dalam hal ketersediaan infrastuktur, peningkatan kapasitas SDM, dan tingkat kemudahan berbisnis. Inilah sebenarnya masalah mendasar yang harus disembuhkan,” ungkap Sandi

Pembenahan

Strategi ekspansi di dalam negeri memag menjadi pilihan beberapa pelaku UMKM. Problem utamanya adalah mereka lebih mengenal pasar domestic dan memiliki kedekatan dengan pelanggan. Novita Yunus, pemilik batik Chic, bilang, meski MEA sudah berlaku, perusahaannya akan fokus mengembangkan pasar dalam negeri. Maklum, industry fashion sangat tergantung dengan tren yang berkembang di negara tempat mereka bercokol.

Itu sebabnya, Novi memilih mengamankan pasar dalam negeri, juga lantaran bonus demografi plus pertumbuhan kelas menengah di Indonesia yang tinggi. “Ekpansi ke luar negeri butuh banyak pertimbangan. Kalau gegabah, justru bisa kehilangan pasar dalam negeri dan luar negeri,” ujarnya.

Dalam mengembangkan pasar dalam negeri, Batik Chic terlebih dahulu akan membenahi manajemen, sehingga memiliki standar dan sistem kerja yang baik. Setelah itu, beralih pada desain batik yang beragam. Ini juga akan disertai dengan kemasan yang lebih memikat masyarakat. Kampanye cinta produk dalam negeri pun akan terus digaungkan.

Catur Jatiwaluyo, pemilik Paperocks Indonesia, menyatakan, dalam bisnis kemasan berbahan kertas, peluang untuk ekspansi ke luar negeri sebetulnya cukup menjanjikan. Soalnya, masyarakat di Singapura dan Malaysia lebih suka menggunakan kemasan kertas dibanding plastik Karena ramah lingkungan.

Walau punya peluang besar, Paperocks Indonesia masih tetap akan menggarap pasar dalam negeri lebih dahulu. Di Indonesia pasar kemasan kertas masih cukup besar lantaran pemainnya tidak banyak. Mereka fokus membidik konsumen menengah ke atas. “Lagi Pula MEA akan datang ke Indonesia, tentu mereka butuh kemasan kami,” kata catur.

Untuk memperluas pasar di dalam negeri, Paperocks Indonesia bakal menjaga level servis dan produk. Maklum, perusahaan ini memang menjadikan layanan terbaik sebagai fokus utama. Untuk produk, Paperocks memberikan kemasan berbahan baku bagus dengan harga kompetitif.

Meski memiliki pasar yang besar, bukan berarti pelaku UMKM hanya fokus menggarap pada dalam negeri saja. Mereka harus berani berekspansi ke luar negeri demi memperluas pasar. Dengan pasar yang lebih luas, tentu keuntungan yang diraih bisa lebih tinggi.

Masih Betah Berbisnis di Negeri Sendiri

Masih Betah Berbisnis di Negeri Sendiri

Agar bisa menembus pasar ASEAN, pelaku UMKM dituntut melakukan pembenahan. Salah satunya, melakukan peningkatan teknologi. Pekerjaan yang selama ini dilakukan secara manual, jika bisa diotomatisasi dengan mesin akan lebih baik. Dengan begitu, UMKM menjadi lebih produktif dan kapasitas produksi bertambah.

Pelaku UKMK perlu pula meningkatkan permodalan dengan modal yang besar. Tentu mendukung ekspansi usaha mereka ke negeri seberang. Untuk itu, Kementrian Koperasi dan UKM dan perbankan menawarkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga hanya 9% per tahun, setelah mendapat subsidi dari pemerintah. Ada juga Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB). Lembaga ini juga memberikan bunga yang murah bagi pelaku UMKM. Syaratnya adalah, usaha yang mereka kembangkan beroientasi ekspor dan mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Hak paten

Menurut Wayan, banyak pelaku UMKM yang sudah mempersiapkan diri untuk merangsek ke pasar ASEAN dan global. Mereka sudah mendapatkan pelatihan dan pendampingan dari pemerintah. “Pelaku UMKM bisa bersaing di pasar ASEAN. Buktinya, setiap pameran di luar negeri, outlet-outlet pengusaha Indonesia pasti diserbu pengunjung,” ujarnya.

Tapi Wayan mengingatkan, pelaku UMKM harus memperhatikan hak cipta dan hak paten atas produk-produk mereka. Untuk itu, mereka segera mendaftarkan hak kekayaan intelektual produknya. Sehingga, produk mereka tidak di klaim orang lain. “Banyak pelaku UMKM yang tidak sadar dan tidak mendaftarkan hak cipta dan hak paten,” kata dia.

Kementraian Koperasi dan UKM siap membantu pelaku UMKM mengurus hak cipta dan hak paten. Dengan menggandeng Kementrian Hukum dan HAM, proses pengurusan hak kekayaan intelektual menjadi lebih cepat, dari sebelumnya butuh waktu delapan bulan menjadi hanya satu jam. Gratis pula. Tahun lalu kementrian koperasi dan UKM membantu memfasilitasi sekitar 1000 pengusaha mendaftarkan hak cipta dan hak paten produknya.

Yang tidak kalah penting, Choirul Djamharim deputi Bidang Pembiayaan Kementrian Koperasi dan UKM, menambahkan, instansinya akan membatu UMKM menciptakan pasar baru. Selama ini UMKM dengan segala keterbatasannya hanya melihat pasar yang tersedia. “Di era MEA, tidak cukup melihat available demand, harus menciptakan pasar,” tegasnya.

Belajar sb1m yuk