header 728 x 90 3

Furniture dengan Sentuhan Motif batik

Inovasi memang sebuah hal penting yang perlu diciptakan para pelaku usaha, karena mampu memikat perhatian pasar. Hal ini pun dibuktikan Dalyono, dengan menggebrak dunia furniture dengan inovasi pada tampilan, yaitu model batik. Keunikan yang mewah dari produk tersebut, tak hanya diminati pasar lokal saja, tetapi sudah menembus pasar internasional. Jadi tak mengherankan, setiap bulan ia mampu meraup omset hingga Rp 500 juta. Seperti apakah inovasi dan keungggulan produknya terssebut?

       Tak kuat menghadapi kerasnya Ibukota, Dalyono kembali pulang ke kampung halaman di Yogyakarta. Namun, saat kembali kesana, dalyono hidup dijalanan. Kondisi jalanan itu mengantarkan Dalyono pada sebuah lembaga Rehabilitasi Sosial di Yogyakarta, pada tahun 1999. Namun, selalu ada hikmah di setiap peristiwa, keberadaan Daryono di lembaga tersebut justru merupakan gerbang awal kesuksesannya. “ Disana saya dibimbing dan dilatih untuk mengasah keterampilan, dan saya memilih divisi tukang kayu. Mulai dari situ, saya terus mengembangkan keterampilan, dan saya membuat berbagai produk dari kayu,” cerita Dalyono.

Delapan bulan Dalyono ditempa oleh para instruktur di Lembaga Rehabilitasai Sosial di Yogyakarta, membuatnya kian mahir menyulap sebongkah kayu menjadi sebuah kerajinan ataupun furniture yang menarik.

Roda kehidupan memang selalu berputar, selepas menimba ilmu di Lembaga Rehabilitasi Sosial, putra pasangan Ngadiman dan Boniyem ini mulai mengembangkan kreativitasnya dengan bekerja di perusahaan mebel berkat rekomendasi dari pihak Lembaga. Anak pertama dari dua bersaudara ini pun mendapat kesempatan un tuk magang di PT Toselna Eksporindo, yang menangani pemesanan furnitur tujuan ekspor.


Saat itu, uang bukan fokus utama Dalyono. Baginya, menimba ilmu tentang bisnis mebel adalah prioritasnya. Seiring berjalannya waktu, kemampuan pria berusia 30 tahun ini semangkin meningkat, namun rasa puas diri tidak sedikit pun tersirat di benaknya. “ Saya selalu mencari posisi tidak aman. Makanya setelah sukses mencuri ilmu dari satu perusahaan, saya akan pindah ke perusahaan lain, untuk menggali ilmu yang berbeda,” kisah Dalyono. Lima tahun proses pembelajaran, Dalyono sudah bekerja di tujuh perusahaan di Yogyakarta.

Furniture dengan Sentuhan Motif batik

Furniture dengan Sentuhan Motif batik

Dari petualangan selama bekerja di berbagai perusahaan, Dalyono pun semakin pintar dalam mendalami usaha permebelan, mulai dari karakteristik kayu, strategi pemasaran, hingga seluk-beluk ekspor.

Setelah dirasa cukup mumpuni, tahun 2006 Dalyono mulai merintis bisnis mebel dari rumah. “ Awalnya hanya mendapat pesanan dari para tetangga. Mereka puas dengan hasil pekerjaan saya, dan mulai banyak yang tahu usaha saya,” jelas Dalyono. Awal merintis bisnis, Dalyono hanya berbekal satu set alat tukang kayu seharga Rp 200 ribu.

Namun Dalyono tidak ingin meraih sukses sendirian. Selama menagani berbagai pesanan, ia pun berbagi ilmu dan memberdayakan teman-teman dikampungnya untuk membantu pekerjaan. Kesuksesan Dalyono merintis usaha mulai dari nol, dan kegiatan pembinaan pemuda yang dilakukannya, terdengar sampai ke telinga Bupati Bantul saat itu.

Karena kesuksesannya menjalani bisnis permebelan, pada tahun 2008 Dalyono mendapatkan beasiswa kuliah entrepreneurship yang diselenggarakan oleh program Pascasarjana universitas Gadjah Mada dengan Ciputra Entrepreneurship. Selama enam bulan, Dalyono pun digembleng untuk menjadi wisausahawan sukses. “ Di sana mata saya semakin terbuka atas potensi bisnis yang saya jalani. Lebih dari itu, saya pun semakin memperluas jaringan dan wawasan mengenai strategi dalam berbisnis, “ cerita Dalyono. Setelah menimba ilmu entrepreneurship, Daryono semakin optimis dengan pengembangan bisnisnya ini.

Inovasi Produk. Dua tahun malang melintang di dunia furniture, akhirnya Dalyono menemukan inovasi baru untuk membedakan produknya dengan produk orang lain. Dalyono meluncurkan mebel batik, yang sampai saat ini merupakan satu-satunya produk mebel dengan hiasan batik yang ada di Indonesia, bahkan dunia.

Produk mebel bayik milik Dalyono dijual berkisar Rp 3 juta – 35 juta per set (meja, kursi kecil, dan kursi panjang). Sedangkan untuk mebel biasa harganya Rp 1 juta – 2,5 juta per set, dan untuk suvenir kayu batik, dipatok mulai Rp 1,5 ribu- Rp 50 ribu per buah. Produk yang paling sering dipesan konsumen adalah furnitur, sedangkan suvenir hanya dipesan saat event tertentu, misalnya pernikahan. “ Makanya suvenir selalu kita produksi kalau ada orderan saja,” terang Dalyono. Menjelang Lebaran, Natal, dan Tahun Baru permintaan produk furnitur akan melonjak hingga 50%.

Menurut pria yang akrab disapa Pak Dal ini, ada beberapa jenis kayu yang tidak bisa menyatu dengan cat pewarna atau malam, bahan baku membuat batik. Dalyono menemukan materi-materi yang dirasa penting dalam membuat komponen mebel kerajinan kayu batik.

Bahan Baku dan Produksi. Untuk bahan baku mebel, ia menggunakan kayu jati grade A , dengan cat warna kimia, seperti parafin. Sedangkan untuk handycraft, ia menggunakan berbagai kayu lunak seperti kayu Sengon Laut dan kayu Fule, dengan pewarna alami yang didapatkan dari kulit kayu lainnya. “Untuk menjaga kualitas pasar , proses pembuatan dan bahan bakunya, saya menggunakan standar ekspor. Bahkan untuk lem dan cat pewarnanya merupakan bahan ekspor,” ungkapnya.

Proses pembuatan mebel batik yang dilakukan berdasarkan standar ekspor, dimulai dari pengovenan komponen mebel untuk mendapatkan kayu dengan suhu kering yang pas. “ Awalnya kayu gelondongan, kita potong-potong berdasarkan koponen produk mebel yang akan dibuat seperti meja, kursi, almari, dan lainnya, atau dipahat menjadi sebuah kerajinan kayu batik, “lanjut Dalyono. Setelah itu, komponen-komponen tersebut baru  dirangkai menjadi sebuah produk.

Setelah proses perangkaian, produk mebel tersebut masuk ke proses pengamplasan untuk mendapat kayu yang halus dan rata. Kemudian mebel tersebut bisa langsung diukir atau  dilukis ala membatik dengan menggunakan malam (bahan baku bentuk cair untuk membatik) dan alat membatik canting, dengan diperindah menggunakan cat warna. Jika sudah kering, diakhiri dengan proses finishing pengolesan vernis atau melamin agar mengkilap.

Strategi pemasaran. Dalyono aktif mempromosikan produknya dari mulut ke mulut. Ia pun menggandeng perusahaan-perusahaan ekspor waktu ia dulu bekerja. “waktu terjadi gempa di yoyakarta, saya menghubungi pihak pemda Yogyakarta untuk menawarkan mebel untuk rumah yang akan dibangun lagi pasca-gempa. Setelah melihat sampelnya, merekapun setuju,” terangnya Dalyono. Dari sana, pasar mulai terbuka luas karena banyak  staf Pemda yang ikut memesan mebel milik Dalyono.

Tidak sia-sia perjuangan Dalyono selama itu, kini jaringan pemasarannya kian menggurita. Kerajinan kayu ndan mebel batiknya tidak hanya meluas  dipasaran Indonesia, namun sudah memikat hati pasar Internasional, seperti Belanda, Prancis, dan Australia. Dalam sebulan, Dalyono mampu memasarkan 40 set mebel batik, 10-20 mebel biasa dan ratusan aneka suvenir kayu yang diberi aksen batik. Karena itu, omset yang diperoleh mencapai  Rp 500 juta dengan keuntungan sebesar 25% atau Rp 125 juta.

Agar bisa menangani semua pesanan, Dalyono memiliki lima tempat produksi yang menangani berbagai produk mebel dan kerajinan kayu, yakni diwilayah Jepara, Sragen , Dlingo dan Kalimundu Bantul, Yogyakarta serta Klaten. “ Dalam waktu dekat, saya ingin membuka tempat produksi didaerah Pasuruan Jawa Timur, “ terangnya Dalyono. Untuk lebih memaksimalkan proses produksinya, ia mempekerjakan 80 karyawan tetap dan 80 karyawan lepas.

Lewat inovasi yang diberikannya, Dalyono mendapat penghargaan juara nasional wirausaha Muda Berprestasi tahun 2009, tingkat nasional. Selain itu, ia kerap diminta bantuan oleh pemerintah Kabupaten Bantul untuk menjadi pendamping pengrajin kayu di Kecamatan Bantul. “Saat ini ada 40 sentra pengrajin kayu yang saya bina, atas kerja sama dengan Pemerintah,” terangnya Dalyono. Ia juga kerap diundang untuk menjadi pembicara diberbagai seminar kewirausahaan dan menjadi instruktur pelatihan pengrajin di Bantul Yogyakarta.

Kendala usaha. Sama seperti wirausahawan lainnya, kendala awal Dalyono merintis usaha mebel adalah permodalan. “ Dulu saya hanya memproduksi jika ada modal saja, kalau nggak ada modal ya mengurangi karyawan,” terangnya Dalyono. Namun dengan banyaknya pemesanan dan keuntungan yang didapatkan, modal bukan lagi kendala utama bagi Dalyono membesarkan usahanya tersebut.

Kerja keras selama lebih dari satu dasawarsa itupun membuahkan hasil yang manis. “Buat saya, uang adalah efek dari kerja keras, tetapi untuk investasi ke depan, saya sudah memiliki tanah dibeberapa tempat di daerah Bantul, punya Rumah, mobil, serta pralatan mesin mebel yang cukup banyak,” terangnya. Bukan saja mengangkat derajat keluarganya, kini Dalyono kian populer dikalangan wirausaha muda dan kerap menjadi pembicara di berbagai seminar kewirausahaan.

Belajar sb1m yuk